Tragedi 12 Mei Trisakti merupakan kasus pembunuhan 4 mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998 silam yang secara mutlak dilakukan oleh negara.
Seiring waktu, adanya dinamika negeri ditambah standarnya rata-rata ingatan bangsa Indonesia, tragedi ini nyaris menuju “peti es” catatan sejarah belaka. Usaha yang dilakukan oleh para aktivis mahasiswa dan alumni Trisakti dalam mempertahankan keberadaan kasus ini di ingatan publik tiada padam, walau dengan perbandingan 1:11 bulan.
Dalam perjalanan misterinya hingga di tahun yang ke-11, tragedi ini menuai beragam respon dan pendapat dari masyarakat dengan berbagai latar belakang. Setidaknya dapat terlihat secara garis besar dalam 4 sikap:
1. Mendukung
Sikap ini membentuk barisan orang-orang yang mendukung (minimal peduli) terhadap upaya penuntasan kasus 12 Mei Trisakti. Segala upaya dilakukan agar kasus ini tetap berada di ingatan publik, dengan prioritas utama penuntasan kasus agar dalang dan pelaku terkirim ke dalam penjara dan jaringannya jangan sampai kembali berkuasa.
Masuk dalam barisan ini adalah aktifis dan mantan aktifis mahasiswa (khususnya Trisakti), aktifis HAM, keluarga korban, alumni yang mengalami kejadian langsung, sebagian mahasiswa dan alumni (khususnya Trisakti) yang tidak mengalami peristiwa 12 Mei 1998, dan orang-orang bernurani bersih lainnya.
Barisan ini berharap agar pelanggaran HAM berat oleh negara kepada rakyat dan mahasiswa tidak terulang lagi di masa depan, tentunya dengan menciptakan preseden positif dalam bentuk menghukum para pelanggar HAM pada kasus 12 Mei Trisakti.
Prioritas lain yang menjadi targetan pegiat kasus ini adalah bertanggungjawabnya negara atas nasib keluarga korban yang telah mengalami efek domino yang mematikan (lihat tulisan “Kabar Terakhir Orang Tua Korban” di link berikut: http://www.facebook.com/profile.php?id=714188334&ref=profile#/topic.php?uid=46088148507&topic=6641 ).
2. Menentang
Sangat jelas siapa yang berada di dalam barisan ini. Lini terdepan adalah orang-orang yang diduga memiliki keterlibatan langsung/tak langsung atas kasus 12 Mei Trisakti. Termasuk pula di dalamnya orang-orang yang memiliki kepentingan (politik dan materialistik) dengan orang-orang lini depan tadi, baik yang telah lama maupun yang baru saja bergabung menjadi bagian dari jaringan barisan ini.
Banyak cara dilakukan dalam rangka menentang upaya penuntasan kasus. Cara keji yang sering dilakukan adalah melemparkan isu dan tuduhan “komersialisasi dan komoditas terhadap kasus 12 Mei Trisakti” kepada barisan pendukung. Cara lain yang juga sering terjadi adalah menyarankan “berdamai” dengan pihak “tersangka” dalam kasus 12 Mei Trisakti dan melupakan peristiwa itu karena akan membuat sedih keluarga korban bila terus-menerus diangkat. Cara yang paling minimal dilakukan adalah memperolok orang-orang barisan pendukung di atas dengan istilah “sia-sia, ikut-ikutan, sok idealis, buang waktu”, dan ribuan kata-kata penyurut semangat lainnya.
Secara lebih lanjut, mereka melakukan infiltrasi ke dalam mahasiswa dan alumni Trisakti, termasuk yang mengalami (masa) peristiwa 12 Mei silam. “Tentakel-tentakel” itulah yang akan bekerja dalam memadamkan semangat aktifis dan loyalis penuntasan kasus 12 Mei Trisakti, dari dalam.
3. Skeptis
Dalam sikap ini keragu-raguan dan ketidakpercayaan menyelimuti. Termasuk di dalamnya orang-orang yang sekalipun mengalami (masa) peristiwa 12 Mei Trisakti, tapi hanya tahu sedikit atau bahkan tidak tahu samasekali perkembangannya. Mereka ragu-ragu dalam menyikapi dengan beragam alasan, mulai dari larut dalam kesibukan, tidak percaya pemerintah dan elit politik yang sekarang, hingga terkena virus barisan penentang.
Orang-orang dalam barisan ini berpeluang tinggi untuk sikap “kanan-kiri oke”, dan menjadi rebutan sasaran opini dari barisan pendukung dan penentang tuntasnya kasus 12 Mei Trisakti.
4. Apatis
Merupakan orang-orang yang tidak peduli samasekali, jangankan soal penuntasan kasus 12 Mei Trisakti, perkembangannya saja mereka tidak mau tahu. Biasanya mereka orang-orang yang tidak paham dan benci kepada elit politik, mayoritas di isi oleh orang-orang yang “lahir” setelah kejadian 11 tahun lalu.
Celakanya, mereka ini kerap kali digunakan oleh barisan penentang dengan menyamar dan menggunakan “bahasa” yang sama, yaitu apatisme terhadap usaha penuntasan kasus 12 Mei trisakti.
Di dalam barisan manakah, anda?
Silahkan tentukan salah satu citra bangsa, dengan cara mengawal arah dan perkembangan kasus 12 Mei Trisakti dalam penuntasannya..
-01 Mei 2009 | Grogol, Jakarta-